Kisah Nyata: Pesankan Untukku Satu Kamar Di Neraka!

“Ambil handphoneku ini dan hubungilah Allah serta tolong pesankan sebuah kamar di NERAKA JAHANAM untukku,” katanya lagi lantas ketawa terkekeh-kekeh tanpa mengetahui bahwasanya dia sedang mempertikaikan hukum Allah dengan begitu biadab... >> Read More

Masya Allah, Ini 8 Fakta Ilmiah Menakjubkan Dalam Sholat

Melalui berbagai penelitian, percobaan dan kajian, sebuah fakta ilmiah mengungkapkan bahwa seseorang yang tidurnya dalam waktu yang sangat lama akan sangat mudah terserang penyakit jantung... >> Read More

Indahnya Hidup Seorang Muslim

"Allahumma ya...ALLAH, tancapkanlah dihati kami, keluarga kami dan sahabat kami kekuatan dan keindahan iman, hiasilah hidup kami dg kemuliaan akhlak dan selamatkanlah kami dari berbagai fitnah hidup di dunia yang hanya sebentar ini...>> Read More

Menyesal Saat Sakaratul Maut, Karena Tidak Optimal dalam Berbuat Kebaikan

Kisah ini berawal dari kebiasaan unik beliau, yaitu setiap masuk ke masjid sebelum sholat berjamaah dimulai, dia selalu beri’tikaf di pojok bagian depan masjid. Dia selalu mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun ... >> Read More

3 Nasehat Seekor Semut Kepada Nabi Sulaiman AS

“Apakah kamu lupa pada hari kiamat nanti kamu akan berdiri di hapanan Pencipta segala kerajaan, yaitu Tuhan langit dan bumi, yang Maha Adil, yang mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya?” lanjutnya... >>Read More

Showing posts with label Peristiwa. Show all posts
Showing posts with label Peristiwa. Show all posts

Saturday, January 18, 2020

3 Perempuan Kaya Menyamar Jadi Pengemis

3 Perempuan Kaya Menyamar Jadi Pengemis
Dikisahkan ada seorang pria tua yang kaya raya dan tiga anak perempuannya yang tinggal di sebuah rumah besar dan indah. 

Dari kejauhan, terlihat juga rumah-rumah yang ditinggali oleh para tukang kayu, pembuat kapal, dan banyak lagi orang dengan profesi berbeda. 

Banyak dari mereka termasuk orang yang jujur, tapi banyak juga yang terlalu egois karena terbuai oleh kemewahan harta benda. Pria kaya raya tadi punya rencana untuk menghapus sifat tersebut, dan ia memutuskan agar ketiga putrinya menyamar menjadi orang miskin. 

Masing-masing dari mereka diberi sekantung emas untuk diberikan pada orang yang mau menolong mereka. Kemudian, pria tadi dan ketiga anaknya mulai berkeliling. 

Di rumah pertama, mereka mengetuk pintu dan seseorang pun membukakan pintu dan berkata, “Tidak. Kami tidak punya kamar atau makanan untuk pengemis.” Lalu menutup pintu. 

Di rumah berikutnya, mereka mengetuk pintu lalu berkata pada orang yang membukakan pintu “bisakah Anda memberi makan dan tempat berlindung untuk kami?” 

“Kami tak punya makanan untuk dibuang-buang, dan rumah kami hampir tidak cukup untuk diri kami sendiri.” Lalu menutup pintu. 

Mereka berkata pada ayah mereka, “haruskah kita teruskan?”. Ayah mereka menjawab, “Masih ada dua lagi. Kita lihat siapa yang tidak egois. Karena kalian sebenarnya tidak membutuhkan bantuan, kalian bisa berhenti jika ditolak.” 

Sampailah mereka di rumah berikutnya. “Yang ini kelihatan lebih meriah daripada yang lain. Kita pasti akan diterima.” Dan sang ayah tetap mengawasi mereka sambil bersembunyi. Ketika pintu dibuka, muncullah seorang gadis. 

“Bisakah kau memberi kami makan dan tempat berteduh selama satu malam?” kata salah seorang dari mereka. “Tidak. Kami baru saja menghabiskan uang untuk saudara kami, Jack, yang baru saja kembali dari laut. 

Kami juga tidak bisa karena kami tidak punya satu kamarpun yang tersisa, sebab semua teman-teman kami ada di sini.” 

 “Tapi kami lelah, dan butuh tempat beristirahat dan makanan” Kata salah seorang dari mereka sambil melihat meja yang penuh dengan makanan. 

“Ya, tapi kami hanya punya untuk diri kami sendiri dan teman-teman kami. Bukan untuk pengemis” kata gadis itu, lalu menutup pintu. 

“Haruskah kami melanjutkan, ayah?” kata mereka. “Satu kali ini saja, ini yang terakhir.” Katanya sambil mengantar mereka ke rumah seorang janda miskin. 

Mereka berhenti sejenak di depan rumah, karena mereka mendengar suara seseorang yang sedang berdoa, “Berilah rizki pada hamba, maafkan kesalahan hamba, dan jangan biarkan hamba tergoda.” 

Ia kemudian berdiri setelah mendengar suara ketukan pintu. Setelah membuka pintu, ia tersenyum pada ketiga gadis tadi. “Aku punya tempat berteduh, tapi tak punya makanan. Masuklah!.” 

Mereka kemudian masuk. “Aku tak punya makanan, tapi marilah dekat perapianku ini. Udara di luar sangat dingin, dan kalian pasti butuh istirahat.” Ia kemudian berkata, 

“Aku senang kalian datang sekarang, aku tak punya bahan bakar lagi, dan jika kalian datang besok pasti di sini gelap dan dingin.” Ketiga gadis tadi kemudian mengeluarkan emas yang ada di kantung mereka. Wanita tadi pun terkejut dan tidak bisa berkata-kata demi melihatnya. 

“Ini dari ayah kami, karena Anda telah menolong kami yang sedang menyamar”. lalu mereka meletakkan emas di atas meja. 

“Tuhan pasti akan memberi rizki pada orang yang mau membantu orang lain.” kata sang ayah yang kemudian muncul. 

Pagi harinya, orang-orang ramai membicarakan emas yang didapat oleh wanita tadi. Mereka menyesal kenapa mereka tidak menolong tiga gadis yang menyamar tadi. 

“Biarlah pengalaman ini menjadi pelajaran untuk seumur hidup kalian, agar mau menolong orang lain yang sedang membutuhkan.” 

“Tapi mereka sebenarnya tidak kelaparan dan kedinginan!” Kata salah seorang dari penduduk. “Kalian menghadapi hal yang sama, karena sebenarnya saat itu kalian semua tidak tahu bahwa mereka menyamar.” 

Mereka pun terdiam, karena itu memang benar. Tapi pelajaran tersebut tidak hanya bertahan sementara, sebab mereka telah berubah dan tidak pernah lagi menutup pintu untuk orang asing yang sedang membutuhkan. 

Tolong di “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih. 

***

Sunday, May 29, 2016

Maafkan Ayah Nak!

Maafkan Ayah Nak!
Suatu hari saya bersenggolan dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi spontan saya. Ia juga berkata: “Maafkan saya juga.” Orang itu dan saya berlaku sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun cerita jadi lain, begitu sampai di rumah. Pada hari itu juga, saat saya sedang menelphone salah satu kolega terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih simpati kolega saya itu, tiba-tiba anak lelaki saya berdiri diam-diam di belakang saya. 

Saat saya berbalik, hampir saja membuatnya jatuh."Minggir!!! Main sana, ganggu saja!!!" teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.

Saat saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan halus, Tuhan berbisik, "Akan kusuruh malaikat mencabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang, namun sebelumnya, aku akan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. 

Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang, akan kuberi lihat setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan atasanmu, kolegamu, sahabat dunia mayamu, serta keadaan keluargamu"

Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yang datang, selebihnya hanya mendoakan lewat grup, bahkan juga ada yang itdak komentar apapun atas kepergianku, dan ada yang hanya menulis 3 huruf singkat, 'RIP'.

Lalu teman-temanku sekantor, hampir semua datang, sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asyik foto-foto dan mengobrol, bahkan ada yang asyik membicarakan aibku sambil tersenyum-senyum. 

Bos yang aku hormati, hanya datang sebentar, melihat jenazahku dalam hitungan menit langsung pulang. Dan kolegaku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.

Lalu kulihat anak-anakku menangis dipangkuan istriku, yang kecil berusaha menggapai-gapai jenazahku meminta aku bangun, namun istriku menghalaunya. istriku pingsan berkali-kali, aku tidak pernah melihat dia sekacau itu. 

Lalu aku teringat betapa sering aku acuhkan panggilannya yang mengajakku mengobrol, aku selalu sibuk dengan hpku, dengan kolega-kolega dan teman-teman dunia mayaku, lalu aku lihat anak-anakku... 

Sering kuhardik dan kubentak mereka saat aku sedang asyik dengan ponselku, saat mereka ribut meminta ku temani. "Oh, Ya Allah.. Maafkan aku.

Lalu aku melihat tujuh hari sejak kematianku, teman-teman sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak mendengar aku mendapatkan doa mereka untukku, perusahaan telah menggantiku dengan karyawan lain, teman-teman dunia maya masih sibuk dengan lelucon-lelucon digrup, tanpa ada yang membahasku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.

Namun, aku melihat istriku masih pucat dan menangis, airmatanya selalu menetes saat anak-anakku bertanya dimana papah mereka? Aku melihat dia begitu lunglai dan pucat, kemana gairahmu istriku? "Oh, Ya Allah Maafkan aku...!"

Hari Ke 40 Sejak Aku Tiada.

Teman FB ku lenyap secara drastis, semua memutuskan pertemanan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup, bosku, teman-teman kerja, tidak ada satupun yang mengunjungiku ke kuburan ataupun sekedar mengirimkan doa.

Lalu kulihat keluargaku, istriku sudah bisa tersenyum, tapi tatapannya masih kosong, anak-anak masih ribut menanyakan kapan papahnya pulang, yang paling kecil yang paling kusayang, masih selalu menungguku di jendela, menantikan aku datang.

Lalu 15 Tahun Berlalu.

Kulihat istriku menyiapkan makanan untuk anak-anakku, sudah mulai keliatan guratan tua dan lelah diwajahnya, dia tidak pernah lupa mengingatkan anak-anak bahwa ini hari Jum'at, jangan lupa kekuburan papah, jangan lupa berdoa setiap sholat, lalu aku membaca tulisan disecarik kertas milik putriku malam itu, dia menulis... 

"Seandainya saja aku punya papah, pasti tidak akan ada laki-laki yang berani tidak sopan denganku, tidak akan aku lihat mamah sakit-sakitan mencari nafkah seorang diri buat kami, oh Ya Allah... 

Kenapa Kau ambil papahku, aku butuh papahku Ya Allah.." kertas itu basah, pasti karena airmatanya...

"Ya, Allah maafkanlah aku...

Sampai bertahun-tahun anak-anak dan istriku pun masih terus mendoakanku setelah sholat, agar aku selalu berbahagia diakherat sana.

Lalu seketika,, aku terbangun.. Dan terjatuh dari dipan.. Oh Ya Allah Alhamdulillah.. Ternyata aku cuma bermimpi..

Pelan-pelan aku pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, masih aku lihat airmata disudut matanya, kasihan sekali, terlalu kencang aku menghardik mereka...

“Anakku, papah sangat menyesal karena telah berlaku kasar padamu.“Si kecilku pun terbangun dan berkata, “Oh papah, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”

“Anakku, aku mencintaimu juga. Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku anakku” Dan kupeluk anakku. Kuciumi pipi dan keningnya.

Lalu kulihat istriku tertidur, istriku yang sapaannya sering kuacuhkan, ajakannya bicara sering kali aku sengaja berpura-pura tidak mendengarnya, bahkan pesan-pesan darinya sering aku anggap tak bermakna, maafkan aku istriku, maafkan aku...

Air Mataku Tak Bisa Ku Bendung Lagi.

Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja, dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? 

Teman-teman akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, beberapa masih menceritakan aib-aib yang tidak sengaja kita lakukan. 

Teman-teman dunia maya pun tak pernah membahas lagi seolah-olah aku tidak pernah mengisi hari-hari mereka sebagai badut di grup.

Lalu aku rebahkan diri disamping istriku, ponselku masih terus bergetar, berpuluh-puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk aku buka, tapi tidak...tidak...

Aku matikan ponselku dan aku pejamkan mata, maaf... Bukan perusahaan, bukan teman-teman, bukan ponsel yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi ini dia... KELUARGAKU...Yah...!! keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakan kehilangan sekali.

Semoga membuat kita semakin bijaksana...Aamiin...

***

Monday, May 16, 2016

KISAH NYATA: Mencuri Singkong karena Kelaparan, Hakim pun Menangis Saat Menjatuhkan Vonis Yang Mengejutkan!

KISAH NYATA: Mencuri Singkong karena Kelaparan, Hakim pun Menangis Saat Menjatuhkan Vonis Yang Mengejutkan!
Di ruang sidang Pengadilan, kota Malang, Jawa Timur, hakim Marzuki tercenung menyimak uraian tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap seorang nenek-nenek yang dituduh mencuri singkong oleh pemilik perkebunan PT AKB.

Nenek itu memberikan alasan bahwa, alasan dia mencuri singkong itu lantaran kehidupannya yang miskin, sementara anak lelakinya sedang menderita sakit, serta cucunya dalam keadaan kelaparan.

Namun, manager PT AKB yang memiliki kebun singkong itu tetap pada pendiriannya dan tetap pada tuntutannya, katanya agar tidak menjadi contoh bagi yang lainnya.

Hakim Marzuki menghela nafas dalam-dalam, kemudian dia memutuskan diluar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU); 

"Maafkan saya nek!", katanya sambil memandang haru nenek itu, "Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi nenek harus tetap dihukum. Saya memutuskan nenek kena denda sebesar 1 juta rupiah, dan seandainya nenek tidak mampu membayar denda, maka nenek harus masuk penjara selama 2,5 tahun penjara seperti tuntutan Jaksa Penuntut Umum!".

Demi mendengar keputusan hakim tersebut, nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki langsung mencopot topi toganya, kemudian mengeluarkan dompet dari saku celananya, mengambil uang 1 juta rupiah dan langsung memasukannya kedalam topi toganya serta berkata kepada para pengunjung yang menghadiri persidangan tersebut.

"Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan vonis denda kepada setiap orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar 50 ribu rupiah, karena Anda sekalian yang menetap di kota ini, membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri singkong untuk memberi makan kepada cucunya yang kelaparan!"

"Saudara panitera!", Tolong kumpulkan uang dendanya dalam topi toga saya ini kemudian berikan uang hasil yang telah dikumpulkannya kepada terdakwa!".

Sampai palu diketuk dan hakim Marzuki meninggalkan ruang sidang pengadilan, nenek itupun pergi dengan mengantongi uang 3,5 juta rupiah, termasuk uang 50 ribu rupiah yang dibayarkan oleh manager PT AKB yang menuntutnya, dia pun tersipu malu karena telah menuntutnya.

Namun, sungguh sayang kisah yang mengharukan ini luput dari liputan pers, padahal kisah nyata ini sungguh menarik sekiranya ada yang bisa mendapatkan dokumentasi dan bisa di share di media massa untuk dijadikan contoh teladan kepada para aparat penegak hukum di negeri ini, untuk senantiasa bekerja dengan menggunakan hati nurani dan mencontoh seperti yang telah dilakukan oleh hakim Marzuki yang berhati mulia!.  

Sumber: Plus.google.com


  

Saturday, May 14, 2016

KISAH NYATA: Masya Allah Inilah Keajaiban Sedekah! Ketulusan Hati Tukang Becak Ini Berbuah Naik Haji

KISAH NYATA: Masya Allah Inilah Keajaiban Sedekah! Ketulusan Hati Tukang Becak Ini Berbuah Naik Haji
Pak Parman, demikianlah biasa orang memanggilnya. Dia hanyalah seorang tukang becak. Meskipun pekerjaannya hanya sebagai tukang becak, tapi pak Parman memiliki budi pekerti yang sangat mulia.

Kemiskinan dan kekurangan yang menyertai dalam kehidupannya, tidak menutup mata batinnya untuk selalu berbagi kepada orang lain. Namun, karena ia memang tidak memiliki harta, ia tidak bisa menyumbangkan hartanya melainkan "SEDEKAH JASA".

Sedekah jasa itu dilakukan pak Parman dengan cara; setiap hari Jumat ia menggratiskan semua penumpang yang naik becanya. Maka atas kebaikannya itulah keberkahan hidup kemudian menghampirinya.

Pada suatu hari, di hari Jumat pertama di bulan Ramadhan, ada orang yang mobilnya mogok persis tidak jauh dari pangkalan becaknya pak Parman.

Orang tersebut memutuskan untuk naik becak. Dia memanggil tukang becak yang ada di pangkalan tersebut dan pak Parman yang datang.

Maka, dikayuhlah becak itu oleh pak Parman menuju rumah orang itu. Rupanya orang ini orang kaya. Setelah sampai di tempat tujuan, pak Parman dikasih uang 10 ribu rupiah dan tidak usah dikembalikan.

Namun, oleh pak Parman uang itu dikembalikan lagi sembari menjelaskan bahwa dirinya sudah meniatkan dari dulu untuk menggratiskan semua penumpang yang naik becaknya setiap hari Jumat.

Ternyata, kejadian itu sangat membekas di hati orang kaya tersebut. Kemudian dikejarlah pak Parman oleh orang kaya itu dan diberinya uang satu juta rupiah. Orang kaya itu berpikir kalau dikasih uang satu juta rupiah, pasti pak Parman akan menerimanya.

Namun, lagi-lagi pak Parman tetap menolaknya. Dinaikkannya lagi menjadi dua juta rupiah, tapi tetap saja pak Parman menolaknya. Alasan pak Parman tetap sama: Dia tidak mau menerima uang sepeser pun pada hari Jumat untuk jasa ojek becanya. sebab, dia sudah meniatkan dalam hatinya untuk bersedekah.

Subhanallah...

Karena semakin penasaran, maka pada hari Jumat berikutnya, orang kaya tersebut naik becak lagi, pak Parman pun diberikan uang yang lebih besar lagi. Kali ni tidak tanggung-tanggung 10 juta rupiah.

Namun, pak Parman sekali lagi, tetap saja menolak uang pemberian itu, yang bagi dia tentu saja uang itu sangatlah besar. Jumat berikutnya ia kembali lagi naik becak pak Parman. Namun kali ini ia tidak minta diantarkan kerumahnya melainkan minta diantar ke rumah pak Parman.

Sesampainya di rumah pak Parman, betapa terkejutnya orang kaya itu, ternyata rumah yang dituju itu hanyalah sebuah rumah kost yang sangat jelek.

Karena merasa iba melihat kondisi seperti itu, orang kaya itupun merogoh uangnya sejumlah Rp 25 juta dan diberikan kepada pak Parman. Ternyata, dengan halus pak Parman tetap menolaknya. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan orang kaya itu.

Akhirnya orang kaya itu menyerah. Dia benar-bernar kalah dengan keteguhan dan ketulusan hati pak Parman. Namun orang kaya itu berjanji dalam hatinya, bahwa suatu saat ia akan memberikan yang terbaik buat tukang becak yang berhati mulia tersebut.

Waktu terus berlalu hingga akhirnya menjelang lebaran Haji (Idul Adha), orang kaya itu kembali datang menemui pak Parman di rumah kostnya.

Setelah mereka bertemu, di depan pak Parman, orang kaya itu kemudian bicara terus terang, "Pak, mohon kali ini niat baik saya diterima. Bapak, istri, serta anak bapak akan saya berangkatkan naik haji ke tanah suci. Sekali lagi pak , mohon agar bapak mau menerima niat baik saya ini?"

Pak Parman menangis di depan istri dan anak semata wayangnya. Pergi ke Mekah saja tidak pernah ia bayangkan. Namun, kini ia dan keluarganya akan di berangkatkan naik haji.

Ini benar-benar hadiah yang sangat luar biasa dari Allah SWT. Tawaran dari orang kaya itu pun akhirnya diterima pak Parman dengan setulus hati. Maka, pak Parman dan keluarganya pun pergi melaksanakan haji.

Ya, seorang tukang beca yang miskin akan tetapi memiliki hati yang sangat mulia akhirnya bisa pergi berhaji. Kebaikannya di balas oleh Allah SWT. Ia memang menolak satu juta, dua juta,10 juta bahkan 25 juta. 

Namun, Allah SWT menggantinya dengan berangkat naik haji ke Baitullah bersama istri dan anak semata wayangnya. MasyaAllah!

***


Friday, April 29, 2016

Heboh! Anak Bidadari Turun Dari Langit di Banggai Laut?

Heboh! Anak Bidadaari Turun Dari Langit di Banggai Laut?
Seorang gadis berwajah seperti boneka "Barbie" telah menghebohkan warga desa Kalupapi, Kecamatan Bakurun, Kabupaten Banggai Laut(Balut Sulawesi Tengah (Sulteng). Gadis itu ditemukan oleh warga sekitar dalam keadaan telanjang dan tidak bisa berbahasa Indonesia.

Warga di sekitar desa Kalupapi itu mengatakan, kemungkinan besar gadis yang imut-imut itu adalah jelmaan dari anak bidadari. Gadis berwajah Berbie itu, pertama kali ditemukan oleh seorang nelayan pada hari Selasa siang (19/04/2016) beberapa waktu yang lalu.

Gadis "anak bidadari" itu ditemukan oleh warga sekitar, di tepi pantai dalam keadaan telanjang dan hanya ditutupi oleh selembar selendang yang transparan berwarna putih kapas dalam keadaan sedang menangis.

Saat berita ini dibuat gadis tersebut ditempatkan oleh warga di salah satu rumah warga didesa Kalupapi, Kecamatan Bakurun, pulau Bokan, Kabupaten Banggai laut, Sulawesi Tengah.

Warga memiliki alasan dan menyebutnya sebagai bidadari, lantaran gadis itu benar-benar berbeda dengan gadis yang lain pada umumnya. Alisnya yang merah dan mata bulat lentik, kulit putih bercahaya.

Kehebohan warga desa Kalupapi semakin menjadi-jadi, ketika penemuan gais yang mirip Berbie itu terkuak ke khalayak ramai.

Selain karena wajah dan kulitnya yang putih bersinar dan mata bulat sempurna. Hebohnya lagi, gadis itu ditemukan nelayan setempat setelah mendengar suara yang jatuh dari atas langit.

"Didapati gadis itu sedang menangis, dan tidak mengenakan pakaian apa-apa hanya berbalutkan selendang warna putih membalut tubuhnya", tutur Rano penduduk setempat yang pertama menemukannya.

"Sekarang dia so dirumah warga, di kasih baju juga jilbab", demikian kata Rano penduduk setempat. Sekalipun sebagian besar warga menganggapnya mustahil kejadian tersebut.

Namun, sebelum ada satupun yang berhasil membuktikan asal muasal gadis itu yang disebut-sebut sebagai anak bidadari.

Tentu saja karena masyarakat banyak yang hanya melihat lewat foto saja, maka kehebohan pun muncul. Isu menyebar, anak bidadari ditemukan di Banggai. Belum lagi bumbu cerita, kalau anak bidadari itu ditemukan nelayan terapung di laut. Rupa-rupa cerita bercampur aduk.

Akhirnya pihak detikcom,  mengkonfirmasi soal heboh anak bidadari yang turun dari langit ini ke Polda Sulteng. Pihak Polda Sulteng kemudian meneruskan ke Polres Banggai dengan AKBP Heru.

Heru sejak Senin (25/4/2016) kemudian melakukan penelusuran soal informasi anak bidadari itu. Tim dari Polsek terdekat dari lokasi yang katanya anak bidadari ditemukan melakukan penelusuran. Lokasi anak bidadari itu berada di Bakurun, Kabupaten Banggai Laut (Balut).

Dan apa...hasilnya? mudah ditebak. Tak ada anak bidadari disana. Fakta di lapangan yang disebut anak bidadari itu ternyata hanyalah sebuah boneka sexs (sex doll) yang ditemukan oleh seorang nelayan sekitar, kemudian di pakaikan baju.

"Ada nelayan di Tangkurung. Nelayan saat kejadian gerhana Matahari, kejadiannya sudah lama, dia menemukan sebuah boneka, memang bonekanya polos, boneka yang terbuat silikon, dibawa ke rumah oleh seorang nelayan dan dikasih baju seperti itu," jelas Heru, Selasa (26/4/2016).

"Kemudian masyarakat disana ada yang foto-foto kemudian menyebar," terang Heru lagi.

Entah bagaimana ceritanya, lanjut Heru, mungkin ada orang iseng yang juga menyebar isu tak benar, kalau boneka itu dipakai baju maka akan berubah menjadi anak-anak. Mirip dongeng zaman dahulu tentang makhluk jelmaan.

"Tapi itu boneka asli, dan sekarang masih tetap menjadi boneka. Jadi kami imbau kepada masyarakat untuk tidak percaya isu dan tahayul," tutup Heru mengingatkan. (Dari berbagai sumber)




***





Saturday, April 23, 2016

KISAH NYATA: Orang Yang Kaya Menyamar Jadi Marbot Masjid

KISAH NYATA: Orang Yang Kaya Menyamar Jadi Marbot Masjid
Alkisah, ada dua orang sahabat yang terpisah sudah cukup lama; namanya Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini orangnya termasuk pintar sekali dan cerdas. Tapi nasibnya kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yang biasa-biasa saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depannya. 

Setelah berpisah cukup lama, keduanya bertemu kembali. Bertemu di tempat yang istimewa; yaitu di koridor tempat wudhu, di sebuah masjid yang mungil. 

Adalah Zaenal, dia sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Penampilannya yang necis dan perlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya. 

Ia pun punya kebiasaan. Setiap pergi keluar kota, ia selalu menyempatkan diri untuk singgah di masjid di kota yang ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. 

Syukur-syukur masih dapat waktu-waktu yang diperbolehkan untuk melaksanakan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai ibadah tambahan. 

Seperti biasa, ia tiba di suatu kota, ia pun lantas mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke dalam masjid yang ia temukan. Namun, tanpa disengaja, di sanalah ia menemukan sahabat lamanya; Ahmad. 

Cukup terperangah juga Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi pintarnya minta ampun. Zaenal tidak menyangka bila berpuluh-puluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad kembali sebagai marbot masjid. 

“Maaf,” katanya sambil menegor sang marbot. 

“Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”. Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya pun berpelukan. 

“Keren sekali Kamu ya mas… manteb…”. Zaenal terlihat masih dalam keadaan memakai dasi. Lengan baju yang digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. 

“Ah, biasa saja…”. kata Zaenal menaruh iba. Ahmad yang dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas marbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidat hitamnya terlihat dengan jelas. 

“Mad! Ini kartu nama saya…”. Ahmad lalu melihat dan membaca. “Manager Area”. Wuiiih..., bener-bener keren gumamnya dalam hati. 

“Mad, nanti sehabis saya shalat, kita ngobrol ya... Maaf, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar marbot di masjid ini. Maaf…”. Ahmad tersenyum. Ia pun mengangguk tanda setuju. 

“Terima kasih ya…!" Jawab Ahmad kemudian. Nanti kita ngobrol lagi. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun akan menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih dulu… Silahkan ya..mas! Yang nyaman”.

Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad, orang yang dikelasnya paling pintar kemudian harus terlempar dari kehidupan yang normal. Ya..., meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai marbot, tapi marbot… aaah..., pikirannya tidak mampu membenarkan. 

Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yang tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin. Air wudhu membasahi wajahnya… 

Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bersih-bersih lantai. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan marbot. Melainkan “office boy”. 

Tanpa Zaenal sadari, rupanya ada yang shalat di belakangnya. Sama-sama shalat sunnah agaknya. Ya..., Zaenal sudah melaksanakan shalat fardhu di masjid yang sebelumnya. Zaenal sempat melirik. 

“Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya dalam hati. Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.

“Pak,” tiba-tiba anak muda yang shalat di belakangnya itu menegur. 

 “Iya Mas..?” 

 “Pak!, Bapak emangnya kenal sama Haji Ahmad…?”

“Haji Ahmad…?” 

 “Ya, Haji Ahmad…” 

“Haji Ahmad yang mana…?” 

 “Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”

“Oh… Ahmad… Iya!. Kenal. Itu kawan saya dulu waktu di SMP. Emangnya dia itu sudah haji?”

“Dari dulu juga sudah haji Pak. Dari sebelumnya bangun masjid ini…”. 

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelumnya bangun masjid ini… Anak muda ini kemudian menambahkan, 

“Beliau itu orang hebat Pak!. Orang yang Tawadhu’. "Sebenarnya saya lah yang marbot asli masjid ini pak!. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini!. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid ini, sebagai masjid transit mereka yang mau shalat. Bapak lihat toko material di sebelah masjid ini… Itu toko nya beliau. Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh...pak! Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji dan adzan saja…”. 

 *** 
Sahabat...! Seandainya Ahmad itu adalah kita, begitu ketemu kawan lama yang sedang melihat kita lagi membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita siapa yang sebenarnya. 

Dan jika kemudian kawan lama kita ini sampai menyangka bahwa kita marbot masjid beneran, maka kita akan segera menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini... dan begitu.... 

Sehingga tahulah kawan kita itu, bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini. Tapi kita bukanlah Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukanlah kita. Ia selamat dari kerusakan amal, sebab ia "cool" saja, tenang saja... adem... 

Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa mengenai diri dan keadaannya. Dan sesungguhnya Allah lah yang memberitahu siapa dia sebenarnya. Subhaanallah... Allahu Akbar...

***

6 Bulan Tidak Ada Yang Datang Ke Klinik di Mekkah, Ternyata Ini Rahasianya!

6 Bulan Tidak Ada Yang Datang Ke Klinik di Mekkah, Ternyata Ini Rahasianya!
Ada seorang dokter yang membuka klinik di Tanah Suci (Makkah Al Mukarramah). Namun, selama 6 bulan praktek disana, tidak ada seorang pasienpun yang datang untuk berobat. 

Hingga beliau merasa heran, apakah orang-orang di sini tidak pernah sakit? Klinik hampir bangkrut karena gak ada yg sakit. 

Akhirnya beliau menemukan jawabannya, yaitu dari salah seorang muslim di sana, inilah rupanya rahasianya: 

Apabila kami sakit maka melakukan beberapa ikhtiar; 

  • Ikhtiar yang pertama. Yang kami lakukan ialah melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, kemudian memohon kesehatan kepada Allah SWT. In syaa Allaah! akan sembuh dengan ijin dan kasih sayang-Nya. Kalau belum sembuh, 
  • Ikhtiar yang ke dua. Yaitu membaca surat Al Fatihah serta surat-surat Al Qur'an yang lainnya, tiupkan pada air kemudian minum airnya. Dan Alhamdulillaah! kami akan sehat. Inilah Ruqyah untuk diri sendiri. Tapi kalau belum sehat juga, kami lakukan, 
  • Ikhtiar yang ke tiga. Yaitu bersedekah, dengan niat utnuk mendapatkan pahala kebaikan, dan dijadikan jalan penyembuh sakit kami. In syaa Allah akan sembuh. Kalau tidak sembuh juga, kami akan tempuh; 
  • Ikhtiar yg ke empat. Yaitu memperbanyak istighfar, bertaubat. Sebab, Nabi Muhammad ﺻﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ memberitahu kepada kami, bahwa sakit adalah salah satu sebab diampuninya dosa-dosa. Kalau belum sembuh juga, baru kami lakukan; 
  • Iikhtiar yang ke lima. Yaitu minum madu dan habbatussauda’. 
  • Ikhtiar yang ke enam. Yaitu dengan mengonsumsi makanan herbal, seperti bawang putih, buah tin, zaitun, kurma, dan lain-lain, seperti yang disebutkan di dalam Al Qur’an. Dan, Alhamdulillah. Laa hawlaa wa laa quwwataa illaa billaah. Jika belum sembuh, baru kami lakukan;
  • Ikhtiar yang ke tujuh. Yaitu pergi ke dokter muslim yang shalih. In syaa Allah! akan diberi kesembuhan dari Allah SWT. Aamiin...  Wallaahu a’lam.. 
Kalau di negara berkembang, biasanya ketika kita sakit: 
  • 1. Googling di internet, gejala sakit apa ya... kira-kira??. 
  • 2. Beli obat di apotik, bila sakit berlanjut... 
  • 3. Datang ke dokter dan minta obat. Kalau belum sembuh juga, 
  • 4. Pindah ke dokter lain, dokternya nggak cocok, belum sembuh lagi, 
  • 5. Cari informasi teman-teman, beli obat herbal atau pengobatan alternatif, bila makin parah. 
  • 6. Konsultasi ke ustadz, kira-kira selama di dunia dosa apa ya...?, dan amalan-amalan apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan sakit. Selanjutnya baru bertaubat kepada Allah atas segala dosa dan khilaf dan berdoa kepada Allah memohon kesembuhan. Itu pada umumnya yaa…?!
Makanya bisnis obat-obatan di negara-negara berkembang laku keras, kuliah di kedokteran keren banget, obat herbal booming… 

Nah!, dari cerita dokter di Mekkah tersebut, kita seharusnya bisa mengambil pelajaran dan bisa mencontoh penduduk di sana, bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim ketika dihadapkan pada kondisi sakit. 

Seorang muslim hendaknya menyandarkan segala kondisinya hanya kepada Allah Ta’ala. Sehingga ketika sakitpun, ikhtiar utama (mayoritas) yang kita lakukan adalah mendekatkan diri pada Allah SWT melalui shalat, taubat, istighfar, dan do’a. Barulah kemudian ikhtiar2 yang sifatnya secara ‘materi’. 

Semoga saudara-saudara  kita yang kini tengah sakit atau tengah berbaring di rumah sakit, segera diberi kesembuhan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semoga menjadi penebus dan penggugur dosa-dosanya. Aamiin. 

Adapun, doa sakit yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, adalah:


. اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا 

"Ya Alloh, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah, Engkaulah As-Syafi (Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit". (HR. Bukhari no. 5675 dan Muslim no. 2191). 

Jangan lupa di SHARE supaya saudara-saudara kita yang sedang dan sering sakit-sakitan bisa mengamalkan ini dulu sebelum pergi berobat ke dokter.

***

Friday, April 22, 2016

Seorang ibu Dalam Hidupnya Ternyata Banyak Berbuat Kebohongan

Seorang ibu Dalam Hidupnya Ternyata Banyak Berbuat Kebohongan
Seorang ibu atau orang tua, ternyata dalam hidupnya sering berbuat kebohongan, apa saja kebohongan yang sering diperbuatnya, inilah diantaranya;

  1. Ketika mau makan, jika makanan itu kurang alias tidak cukup, maka Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan beliau berkata, "Makanlah nak! ibu tidak lapar...
  2. Pada saat makan, Ia selalu menyisihkan ikan atau daging untuk anaknya dan berkata, "Ibu tidak suka ikan atau daging nak! makanlah...
  3. Tengah malam disaat dia sedang menjaga anaknya yang sedang sakit, Ia akan berkata, "Istirahatlah nak! Ibu belum mengantuk...!"
  4. Saat anak sudah bekerja dan mengirimkan uang untuk ibu. Ia akan berkata, "Simpanlah uangmu itu untuk keperluanmu nak! Ibu masih ada uang...!"
  5. Disaat anak sudah berhasil dan sukses, kemudian menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besarnya. Ia lantas berkata; "Rumah tua kita itu sangat nyaman nak!, Ibu tidak terbiasa tinggal disana...!"
  6. Saat menjelang tua, ibu sakit keras, kemudian anaknya menangis, tetapi ibu tetap bisa tesenyum sambil berkata, "Jangan menangis nak! ibu tidak apa-apa...!" Ini adalah kebohongan terakhir seorang ibu.
Tidak peduli seberapa kaya kita, tidak seberapa dewasanya kita, seorang ibu akan selalu menganggap kita adalah anak kecilnya, beliau selalu mengkhawatirkan diri kita, tapi sebaliknya kita tidak pernah mengkhawatirkan dirinya. Itulah bedanya antara kita dengan Ibu kita.

Semoga semua anak di dunia ini bisa menghargai setiap kebohongan seorang ibu... karena beliaulah malaikat nyata yang dikirim Allah SWT untuk senantiasa menjaga kita.

Maka berbahagialah kepada orang-orang yang masih memiliki ibu dan bahagiakanlah mereka selagi beliau masih ada bersama  kita.

***

Thursday, April 21, 2016

Aku Terpaksa Menikah Dengannya...

Aku Terpaksa Menikah Dengannya...
Aku sungguh membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun aku terpaksa menikah dengannya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku sepenuhnya kepadanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas sebagai istri. Aku terpaksa melakukan semuanya itu karena aku tidak punya pegangan dan pilihan lain. 

Beberapa kali muncul keinginan utk meninggalkannya, tapi aku tak punya kemampuan secara finansial dan dukungan dari siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok seorang suami yang sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika aku menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri.

Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawanku. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur.

Aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Aku akan marah kalau ia menggantungkan bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, karena aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. 

Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akhirnya, akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahan terbesarku padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. 

Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah.

Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mall dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. 

Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk pergi ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. 

Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. 

Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi?”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. 

Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. 

Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, 
“selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. 

Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. 

Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. 
Suamiku telah tiada. 

Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. 

Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar dari kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. 

Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. 

Airmata mulai merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. 

Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus ku konsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. 

Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. 

Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasakan untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. 

Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. 

Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. 

Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. 

Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang ngambek dulu. 

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. 

Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. 
Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. 

Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. 

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. 

Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. 

Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. 

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahkan kepadaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. 

Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidungnya, setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. 

Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. 

Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. 

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu. 

Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. 

Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. 

Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

"Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu".

"Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingimu selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti". 

"Aku tak ingin sayang! susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang! bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang!"

"Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku".

"Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan ayah nak! karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan...Farhan!, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!"

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. 

Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. 

Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku dinikahi oleh seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. 

Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Wallahu’alam bishawab...


Tuesday, April 19, 2016

Para Ilmuwan Memprediksi Bakal Terjadi Gempa Bumi Super Dahsyat

Para Ilmuwan Memprediksi Bakal Terjadi Gempa Bumi Super Dahsyat
Para ilmuwan memprediksi akan adanya gempa super dahsyat atau Mega Quake menyusul terjadinya gempa bumi yang melanda wilayah Ring of Fire dalam sepekan ini.

Seperti diketahui, setelah Jepang kemudian Equador yang diguncang gempa berkekuatan 7,8 SR. Gempa bumi juga mencatat mengguncang kawasan Kepulauan Tonga yang masih satu rangkaian dengan zona subduksi Pasifik.

Gempa bumi yang melanda wilayah Jepang terjadi sampai dua kali, yakni pada hari Kamis (14/04/2016) berskala 6,2 SR dan hari Sabtu (16/04/2016) yang beskala 7,3 SR. Tidak lama kemudian yaitu pada hari Minggu (17/04/2016) gempa bumi berskala 6,1 SR melanda Kepulauan Tonga yang berada di dekat Pasifik.

Tidak ada laporan kerusakan akibat kejadiajn tersebut. Terakhir, ujung lain dari Cincin Api, yakni Equador juga diguncang gempa bumi berskala 7,8 SR.

Seismolog dari Universitas of Colorado, Roger Bilham mengatakan, "Serangkaian kejadian tersebut dapat memicu gempa  bumi dengan kekuatan sekitar empat kali lebih besar dari magnitudo 8,0. Dan bila tertunda, tekanannya terakumulasi selama berabad-abad memicu gempa mega yang lebih berbahaya", demikian kata Roger Bilham seperti dikutip dari media Daily Mail, Senin (18/04/2016).


Para Ilmuwan Memprediksi Bakal Terjadi Gempa Bumi Super Dahsyat

Selain empat gempa besar di wilayah itu, pekan lalu juga ada getaran di wilayah Filipina, Vanuatu dan Myanmar yang juga masuk di jalur Cincin Api.

Sebagaimana dilaporkan, warga di daerah Nias Selatan, propinsi Sumatera Utara juga dikagetkan dengan kejadian dua kali gempa pada hari Minggu kemarin dengan skala 5 dan 5,1 SR.

Perlu diketahui, bahwa jalur Cincin Api berbentuk seperti tapal kuda yang membentang di wilayah Samudera Pasifik. Itu menjadi lokasi di mana lempeng tektonik bergeser sehingga gempa dan gunung berapi adalah hal yang umum.

Menurut US Geological Survey, yaitu sebuah lembaga independen yang memonitor bencana alam, gempa bumi mega memang jarang terjadi, akan tetapi bukannya itu tidak mungkin. Pasalnya, daerah di mana pergeseran lempeng terjadi, mampu menghasilkan gempa bumi yang berkekuatan 10 SR.

Namun, para ilmuwan belum dapat sepenuhnya memperhitungkan mega gempa itu, karena baru mengukur aktivitas seismik dalam waktu 100 tahun terakhir.
Gempa yang terjadi di Ekuador Minggu malam menjadi yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir bagi negara itu. Selain menewaskan 77 orang, gempa tersebut melukai 588 orang lainnya.

Para Ilmuwan Memprediksi Bakal Terjadi Gempa Bumi Super Dahsyat"Saya takut bahwa angka korban akan terus meningkat," kata seorang presiden Correa yang tampak terguncang dalam pidato di televisi.

"Ada tanda-tanda kehidupan di balik reruntuhan, dan ini yang sedang diprioritaskan," katanya.

Sekitar 10.000 tentara dan 3.500 polisi dikerahkan ke kawasan-kawasan yang diterjang gempa untuk membantu operasi penyelamatan. Presiden memperingatkan bahwa gempa akan menelan biaya miliaran dolar. 

Padahal saat ini negara penghasil minyak itu masih mengalami kesulitan ekonomi akibat merosotnya harga minyak mentah global belakangan ini.

***


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com